Dalam sebuah pengajian, ada seorang ustad muda yang menyampaikan beberapa hadis tanpa menyebutkan para perawinya. Maklumlah, sang ustad bukanlah alumni pesantren seperti Lirboyo, Langitan, Tebu Ireng, Gontor, atau yang sejenis. Ustad muda ini adalah hasil didikan sebuah lembaga yang enam bulan menggodog pesertanya untuk menjadi dai-dai profesional. Jamaah pengajiannya pun rata-rata orang awam yang tidak tahu menahu tentang hadis dan seluk beluknya.
Setelah sang ustad selesai menyampaikan taushiyah, dibukalah dialog interaktif. Biar bisa hidup dan wawasan semakin luas, katanya. Salah seorang jamaah yang kebetulan adalah mahasiswa yang sedang rajin-rajinnya belajar ilmu agama mengacungkan jarinya. "Maaf Ustad, saya ingin tanya. Siapa ya para perawi hadis yang telah ustad sebutkan tadi?"
Pertanyaan yang tidak terduga sebelumnya. Sang ustad ini hanya akrab dengan dua nama perawi hadis, Bukhari dan Muslim. Ia pun menjawab, "Kelima hadis yang saya sebutkan tadi perawinya, muslim."
Ada seorang mahasiswa yang kebetulan agak lama nyantri mengacungkan jarinya, "Maaf Ustad, setahu saya hadis pertama tadi perawinya Imam Bukhari, yang kedua Imam Abu Dawud, yang ketiga Imam Ibnu Majah, yang keempat Imam Ibnu Khuzaimah, dan yang kelima Imam Thabrani."
"Lho tapi kan kelimanya tetap juga muslim, tidak ada yang non muslim?" kata Ustadnya tidak mau kalah.
Dipun serat dening Mas Pii
Rabu, 08 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar