Pada suatu hari ada seorang yang miskin sedang terbaring sakit. Seluruh keluarga menungguinya, termasuk anaknya yang menjadi kembang desa di sana. Meskipun orang tersebut sakit parah dan sepertinya mendekati ajal, namun ia tidak dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Dalam keadaan yang demikian, salah seorang tetangga mereka yang super pelit datang menjenguk. Maklumlah, tetangga kaya namun super pelit itu mengincar anak gadis si sakit. Ia berkata, “Sudahlah Pak. Semestinya bapak ini dirawat saja di rumah sakit. Ini, saya bawakan uang untuk periksa.”
“Terima kasih Nak. Namun, ongkos ke rumah sakit mahal dan tidak ada yang bisa dijadikan tambahan nanti jika kurang,” jawab si sakit.
“Ah, kalau masih kurang, ini saya berikan tambahan,” kata si kaya yang pelit itu. Agaknya ia ingin memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Ia ingin agar si kaya berwasiat agar putrinya mau menikah dengannya.
Orang yang sakit bertanya, “Nak, mungkin ini sudah bisa menyembuhkan penyakitku. Hanya saja, apakah kamu benar-benar ikhlas memberikannya kepadaku.”
“Oh benar Pak. Saya memberikannya dengan tulus ikhlas tanpa ada satu pamrih apapun. Yang penting bapak lekas sembuh.”
“Baiklah kalau demikian. Ketahuilah Nak. Sebenarnya aku sakit karena memusingkan biaya penikahan anakku yang sudah disepakati bulan depan. Nah dengan uang ini, anakku bisa menikah walaupun dengan sesederhana mungkin. Maklumlah keluarga calon mantuku juga orang melarat. Nah sekarang aku sudah sembuh kok.” Si sakit itu berdiri dengan kokohnya tanpa ada tanda-tanda bahwa ia sakit keras. Sementara itu, ‘dermawan mendadak’ itu hanya bisa melongo tanpa bisa berkata apa-apa.
Posted by Farhan's father
Selasa, 07 April 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar