"Saudara-saudara, Allah berfirman, kamu tidak mencapai kebajikan yang sempurna sebelum menginfakkan apa yang kalian cintai." Begitulah kata seorang dai dengan bahasa yang menggebu-gebu dan semangat menggelora seperti Bung Karno di zaman dulu. Semua orang mendengarkan dengan seksama. Tidak terkecuali istri Al Mukarram Dai tersebut. Mereka laksana tersihir olehnya.
Malam berikutnya Sang Dai diminta mengisi tabligh di tempat lain. Namun kali ini sang istri tidak bisa ikut karena ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan (Alasan orang kan biasanya begitu tho?). Ternyata di rumah ada tamu dua orang mahasiswa yang ingin mengundang Sang Dai untuk menyampaikan tabligh akbar di kampus pencetak intelek pencari lapangan kerja. Ya, meskipun yang datang tidak seberapa, tapi kan istilah yang sedang ngetrend sekarang tabligh akbar. Istri Sang Dai ingat kata-kata suaminya. Segera ia menyuruh anak sulungnya untuk menyembelih jago bangkok klangenan sang suami. "Ah, pasti Abi akan bangga kalau aku infakkan ayam kesayangannya ini untuk menjamu tamu," pikirnya sambil tersenyum.
Singkat cerita, masakanpun matang dan istri Sang Dai menyuguhkan tamunya dengan daging ayam klangenan sang suami. Setelah semuanya dirasa cukup, merekapun pulang.
Beberapa saat kemudian Sang Dai pulang. Dengan penuh kasih dan hormat, istrinya menyambut. Maklumlah, ia adalah sosok istri pendamba surga. "Abi lapar?" tanyanya.
Suaminya mengangguk. Ia pun mengambilkan makan nasi dan daging ayam yang masih ada. Sambil menemani suaminya makan, sang istri bercerita tentang tamu yang mengundangnya untuk tabligh akbar. Suaminya manggut-manggut sambil menikmati daging ayam masakan istrinya. "Kalau saja tiap tamu mbawa makan ayam tiap hari seperti ini, pasti rasanya lebih nikmat," pikirnya.
Pagi harinya, Sang Dai merasa ada sesuatu yang kurang. Yah, ia tidak mendengar kokok ayam jantan klangenannya. Ia mencari kemana-mana tetapi tidak ketemu juga.
"Umi, di mana ayam jago klangenan Abi?" tanyanya kepada istrinya.
"Lha, yang Abi makan tadi malam itu kan si Jago?" kata istrinya.
"Inna lillaahi wa innaa ilahi rooji'uun," kata suaminya sedih.
"Lha, itu bukan ayam bawaan tamu ya Mi? Itu Si Jago" Kok Umi tega-teganya menyembelih binatang kesayangan Abi," kata Sang Dai penuh penyesalan
"Lha, kata Abi kita baru mencapai derajat kebajikan yang sempurna kalau sudah menginfakkan apa yang kita cintai. Lha, saya ingin mencapai derajat itu bersama Abi," kata istrinya menjelaskan maksudnya.
"Umi, umi. Itu kan dalil untuk orang lain, bukan untuk kita."
"Oalah."
Posted by Santri Lajon
Senin, 20 April 2009
Rabu, 08 April 2009
Perhatian Caleg Terhadap Pesantren
Seorang caleg tengah mengunjungi sebuah pesantren untuk berkampanye. Karena para santri biasanya sami'na wa atha'na, jadi nanti tinggal ngrembuki kiainya saja sudah mendapatkan suara sekian ribu. Maklumlah, santri di pesantren tersebut tidak kurang dari lima ribu orang. "Maaf, Pak. Bagaimana perhatian Bapak dan Partai yang bapak pinpin terhadap dunia pesantren besok?"
"Dari dulu kami sangat memperhatikan dunia pesantren dan besok pun tetap akan memperhatikan dunia pesantren. Lihatlah kaos dan akan kami bagikan. Lihatlah jas yang sekarang kami pakai. Sama bukan, dengan warna kitab kalian?"
dipun kentun dening Bapakipun Hasna kalian Farhan
"Dari dulu kami sangat memperhatikan dunia pesantren dan besok pun tetap akan memperhatikan dunia pesantren. Lihatlah kaos dan akan kami bagikan. Lihatlah jas yang sekarang kami pakai. Sama bukan, dengan warna kitab kalian?"
dipun kentun dening Bapakipun Hasna kalian Farhan
Perawinya Muslim
Dalam sebuah pengajian, ada seorang ustad muda yang menyampaikan beberapa hadis tanpa menyebutkan para perawinya. Maklumlah, sang ustad bukanlah alumni pesantren seperti Lirboyo, Langitan, Tebu Ireng, Gontor, atau yang sejenis. Ustad muda ini adalah hasil didikan sebuah lembaga yang enam bulan menggodog pesertanya untuk menjadi dai-dai profesional. Jamaah pengajiannya pun rata-rata orang awam yang tidak tahu menahu tentang hadis dan seluk beluknya.
Setelah sang ustad selesai menyampaikan taushiyah, dibukalah dialog interaktif. Biar bisa hidup dan wawasan semakin luas, katanya. Salah seorang jamaah yang kebetulan adalah mahasiswa yang sedang rajin-rajinnya belajar ilmu agama mengacungkan jarinya. "Maaf Ustad, saya ingin tanya. Siapa ya para perawi hadis yang telah ustad sebutkan tadi?"
Pertanyaan yang tidak terduga sebelumnya. Sang ustad ini hanya akrab dengan dua nama perawi hadis, Bukhari dan Muslim. Ia pun menjawab, "Kelima hadis yang saya sebutkan tadi perawinya, muslim."
Ada seorang mahasiswa yang kebetulan agak lama nyantri mengacungkan jarinya, "Maaf Ustad, setahu saya hadis pertama tadi perawinya Imam Bukhari, yang kedua Imam Abu Dawud, yang ketiga Imam Ibnu Majah, yang keempat Imam Ibnu Khuzaimah, dan yang kelima Imam Thabrani."
"Lho tapi kan kelimanya tetap juga muslim, tidak ada yang non muslim?" kata Ustadnya tidak mau kalah.
Dipun serat dening Mas Pii
Setelah sang ustad selesai menyampaikan taushiyah, dibukalah dialog interaktif. Biar bisa hidup dan wawasan semakin luas, katanya. Salah seorang jamaah yang kebetulan adalah mahasiswa yang sedang rajin-rajinnya belajar ilmu agama mengacungkan jarinya. "Maaf Ustad, saya ingin tanya. Siapa ya para perawi hadis yang telah ustad sebutkan tadi?"
Pertanyaan yang tidak terduga sebelumnya. Sang ustad ini hanya akrab dengan dua nama perawi hadis, Bukhari dan Muslim. Ia pun menjawab, "Kelima hadis yang saya sebutkan tadi perawinya, muslim."
Ada seorang mahasiswa yang kebetulan agak lama nyantri mengacungkan jarinya, "Maaf Ustad, setahu saya hadis pertama tadi perawinya Imam Bukhari, yang kedua Imam Abu Dawud, yang ketiga Imam Ibnu Majah, yang keempat Imam Ibnu Khuzaimah, dan yang kelima Imam Thabrani."
"Lho tapi kan kelimanya tetap juga muslim, tidak ada yang non muslim?" kata Ustadnya tidak mau kalah.
Dipun serat dening Mas Pii
Selasa, 07 April 2009
TPA sana sudah maju
Pada suatu hari ada pertemuan antara ustadz dan para wali santri untuk membicarakan anak-anak yang mengaji. Para ustadz ingin membicarakan kwalitas anak-anak yang mengaji agar mereka bisa meningkat. Lalu para wali dipersilahkan mengemukakan usul-usulnya.
“Ustadz, kita harus berfikir bagaimana untuk memajukan TPA ini.”
“Apa saran ibu agar TPA ini bisa maju.”
“Kita harus bisa mencontoh TPA yang sudah maju.”
“Coba ibu tunjukkan contoh TPA yang sudah maju.”
“Ah, banyak sekali ustadz. TPA di sana, di kampung sana itu maju. Anak yang masuk sudah langsung disuruh membeli seragam bagus, setiap minggu ada sepeda gembira, setiap sebulan mereka piknik, dan di sana bayarnya mahal.”
Dengan suara pelan ustadz itu mengucap, “Astaghfirullahal Azhim.”
“Ustadz, kita harus berfikir bagaimana untuk memajukan TPA ini.”
“Apa saran ibu agar TPA ini bisa maju.”
“Kita harus bisa mencontoh TPA yang sudah maju.”
“Coba ibu tunjukkan contoh TPA yang sudah maju.”
“Ah, banyak sekali ustadz. TPA di sana, di kampung sana itu maju. Anak yang masuk sudah langsung disuruh membeli seragam bagus, setiap minggu ada sepeda gembira, setiap sebulan mereka piknik, dan di sana bayarnya mahal.”
Dengan suara pelan ustadz itu mengucap, “Astaghfirullahal Azhim.”
Menyumbanglah sebanyak-banyaknya
Pada suatu hari ada seorang Ustadz berceramah dalam acara penggalian dana demi pembangunan masjid, “Saudara-saudara. Semua orang mati akan terputus amalnya selain tiga. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih. Oleh karena itu, janganlah kalian pelit. Nafkahkanlah harta kalian di jalan Allah. Untuk menayntuni fakir miskin, anak yatim, dan apalagi untuk kepentingan masjid. Ingatlah, kalian tidak akan dianggap berbuat baik secara sempurna sebelum kalian menafkahkan apa yang kalian cintai. Mari, kita menyumbang sebanyak-banyaknya dan seikhlas-ikhlasnya untuk masjid yang akan dibangun ini.”
Para pendengar merasa terpana dengan pidato ustadz yang demikian berapi-api. Memang, ustadz yang pidato itu adalah ustadz ternama yang setiap pidato bisa membangkitkan semangat orang.
Beberapa hari kemudian, panitia masjid itu mendatangi rumah sang ustadz untuk mohon sumbangan. Sang ustadz marah-marah dan berkata, “Kemarin lusa, ada panti asuhan minta nsumbangan. Kemarin ada yayasan panti jompo minta sumbangan. Sekarang panitia masjid minta sumbangan. Besok pasti ada orang ngamen minta uang. Lha kalau setiap hari ada orang minta sumbangan, habis uangku.” Mendengar jawaban itu, panitia masjid bertanya, “Maaf, Pak ustadz, bukankah kemarin Pak Ustadz yang menganjurkan para pendengar pengajian untuk beramal sebanyak-banyaknya?”
“Lha ya itu yang bikin saya heran. Masak sudah aku bilang tiap orang harus beramal banyak dan ikhlas kok masih belum tergugah juga. Coba kalau misalnya yang hadir kemarin ada lima ratus orang dan masing-masing orang menyumbang lima ratus ribu. Nanti kan sudah cukup untuk bangun masjid tanpa
posted by Syafii Masykur
Para pendengar merasa terpana dengan pidato ustadz yang demikian berapi-api. Memang, ustadz yang pidato itu adalah ustadz ternama yang setiap pidato bisa membangkitkan semangat orang.
Beberapa hari kemudian, panitia masjid itu mendatangi rumah sang ustadz untuk mohon sumbangan. Sang ustadz marah-marah dan berkata, “Kemarin lusa, ada panti asuhan minta nsumbangan. Kemarin ada yayasan panti jompo minta sumbangan. Sekarang panitia masjid minta sumbangan. Besok pasti ada orang ngamen minta uang. Lha kalau setiap hari ada orang minta sumbangan, habis uangku.” Mendengar jawaban itu, panitia masjid bertanya, “Maaf, Pak ustadz, bukankah kemarin Pak Ustadz yang menganjurkan para pendengar pengajian untuk beramal sebanyak-banyaknya?”
“Lha ya itu yang bikin saya heran. Masak sudah aku bilang tiap orang harus beramal banyak dan ikhlas kok masih belum tergugah juga. Coba kalau misalnya yang hadir kemarin ada lima ratus orang dan masing-masing orang menyumbang lima ratus ribu. Nanti kan sudah cukup untuk bangun masjid tanpa
posted by Syafii Masykur
Ikhlas Memberi
Pada suatu hari ada seorang yang miskin sedang terbaring sakit. Seluruh keluarga menungguinya, termasuk anaknya yang menjadi kembang desa di sana. Meskipun orang tersebut sakit parah dan sepertinya mendekati ajal, namun ia tidak dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Dalam keadaan yang demikian, salah seorang tetangga mereka yang super pelit datang menjenguk. Maklumlah, tetangga kaya namun super pelit itu mengincar anak gadis si sakit. Ia berkata, “Sudahlah Pak. Semestinya bapak ini dirawat saja di rumah sakit. Ini, saya bawakan uang untuk periksa.”
“Terima kasih Nak. Namun, ongkos ke rumah sakit mahal dan tidak ada yang bisa dijadikan tambahan nanti jika kurang,” jawab si sakit.
“Ah, kalau masih kurang, ini saya berikan tambahan,” kata si kaya yang pelit itu. Agaknya ia ingin memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Ia ingin agar si kaya berwasiat agar putrinya mau menikah dengannya.
Orang yang sakit bertanya, “Nak, mungkin ini sudah bisa menyembuhkan penyakitku. Hanya saja, apakah kamu benar-benar ikhlas memberikannya kepadaku.”
“Oh benar Pak. Saya memberikannya dengan tulus ikhlas tanpa ada satu pamrih apapun. Yang penting bapak lekas sembuh.”
“Baiklah kalau demikian. Ketahuilah Nak. Sebenarnya aku sakit karena memusingkan biaya penikahan anakku yang sudah disepakati bulan depan. Nah dengan uang ini, anakku bisa menikah walaupun dengan sesederhana mungkin. Maklumlah keluarga calon mantuku juga orang melarat. Nah sekarang aku sudah sembuh kok.” Si sakit itu berdiri dengan kokohnya tanpa ada tanda-tanda bahwa ia sakit keras. Sementara itu, ‘dermawan mendadak’ itu hanya bisa melongo tanpa bisa berkata apa-apa.
Posted by Farhan's father
“Terima kasih Nak. Namun, ongkos ke rumah sakit mahal dan tidak ada yang bisa dijadikan tambahan nanti jika kurang,” jawab si sakit.
“Ah, kalau masih kurang, ini saya berikan tambahan,” kata si kaya yang pelit itu. Agaknya ia ingin memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan. Ia ingin agar si kaya berwasiat agar putrinya mau menikah dengannya.
Orang yang sakit bertanya, “Nak, mungkin ini sudah bisa menyembuhkan penyakitku. Hanya saja, apakah kamu benar-benar ikhlas memberikannya kepadaku.”
“Oh benar Pak. Saya memberikannya dengan tulus ikhlas tanpa ada satu pamrih apapun. Yang penting bapak lekas sembuh.”
“Baiklah kalau demikian. Ketahuilah Nak. Sebenarnya aku sakit karena memusingkan biaya penikahan anakku yang sudah disepakati bulan depan. Nah dengan uang ini, anakku bisa menikah walaupun dengan sesederhana mungkin. Maklumlah keluarga calon mantuku juga orang melarat. Nah sekarang aku sudah sembuh kok.” Si sakit itu berdiri dengan kokohnya tanpa ada tanda-tanda bahwa ia sakit keras. Sementara itu, ‘dermawan mendadak’ itu hanya bisa melongo tanpa bisa berkata apa-apa.
Posted by Farhan's father
Hendaklah Selalu Berkata Jujur
Seorang ibu berkata kepada anaknya, “Anakku hendaklah kamu senantiasa berkata jujur. Orang jujur dicintai Allah dan orang yang pendusta dibenci Allah.”
Anaknya bertanya, “Kalau kejujuran itu merugikan kita bagaimana, Bu?”
“Kamu harus tetap jujur. Rasulullah Saw bersabda yang artinya Katakanlah yang benar walaupun pahit.”
Selesai berkata demikian, ibu itu melihat tukang kredit dari kejauhan. Ia ingat bahwa kreditannya masih belu lunas dan hari ini adalah jadwalnya mengangsur sedangkan dirinya tidak mempunyai uang. Ia segera berkata kepada anaknya, “Nak, kalau bapak tukang kredit itu datang katakan ibu sedang pergi saja ya? Ibu akan bersembunyi di kamar.”
Demikianlah, ibu itu segera bergegas ke kamarnya agar tukang kredit tidak mengetahuinya. Tidak beberapa lama tukang kredit pun datang dan bertanya kepada anak kecil itu. “Nak, ibumu ada di rumah?”
“Pak, ibu tadi menyuruh saya kalau bapak datang saya harus bilang kalau ibu sedang pergi. Karena saat ini ibu bersembunyi di kamar.”
posted by Muhammad Syafii Masykur
Anaknya bertanya, “Kalau kejujuran itu merugikan kita bagaimana, Bu?”
“Kamu harus tetap jujur. Rasulullah Saw bersabda yang artinya Katakanlah yang benar walaupun pahit.”
Selesai berkata demikian, ibu itu melihat tukang kredit dari kejauhan. Ia ingat bahwa kreditannya masih belu lunas dan hari ini adalah jadwalnya mengangsur sedangkan dirinya tidak mempunyai uang. Ia segera berkata kepada anaknya, “Nak, kalau bapak tukang kredit itu datang katakan ibu sedang pergi saja ya? Ibu akan bersembunyi di kamar.”
Demikianlah, ibu itu segera bergegas ke kamarnya agar tukang kredit tidak mengetahuinya. Tidak beberapa lama tukang kredit pun datang dan bertanya kepada anak kecil itu. “Nak, ibumu ada di rumah?”
“Pak, ibu tadi menyuruh saya kalau bapak datang saya harus bilang kalau ibu sedang pergi. Karena saat ini ibu bersembunyi di kamar.”
posted by Muhammad Syafii Masykur
kejujuran seorang pedagang
Pada suatu hari ada seorang laki-laki yang hendak membeli buah mangga. Ia bertanya kepada penjual mangga tersebut, “Bu, mangganya manis-manis atau tidak?”
“Oh, manis-manis Mas. Di sini kami hanya mangga manis yang saya jual.”
“Ah sayang, mengapa mangga di sini semua manis-manis ya?”
“Memangnya yang Mas ingini yang bagaimana?”
“Saya ingin mangga yang kecut. Maklumlah, saat ini istri saya sedang hamil muda, nyidam”
“Oh mangga yang kecut. Kalau begitu ini saja Mas. Mangga ini kecut-kecut.”
dikirim oleh Muhammad Syafii Masykur
“Oh, manis-manis Mas. Di sini kami hanya mangga manis yang saya jual.”
“Ah sayang, mengapa mangga di sini semua manis-manis ya?”
“Memangnya yang Mas ingini yang bagaimana?”
“Saya ingin mangga yang kecut. Maklumlah, saat ini istri saya sedang hamil muda, nyidam”
“Oh mangga yang kecut. Kalau begitu ini saja Mas. Mangga ini kecut-kecut.”
dikirim oleh Muhammad Syafii Masykur
Masjid dulu dan masjid sekarang
Pada suatu hari ada seseorang bertanya kepada seorang kiai. “Pak Kiai mengapa orang yang shalat berjamaah semakin hari semakin sedikit? Bukankah jumlah penduduk Indonesia semakin hari pertambahannya semakin pesat dan masjid-masjid semakin besar dan semakin bagus?
“Soalnya, kalau dahulu setiap peresmian masjid dikatakan: “Saudara-saudara, kita telah selesai membangun masjid. Mari kita gunakan masjid ini untuk shalat berjamaah.” Kalau pada zaman sekarang setelah selesai membangun masjid dikatakan: “Saudara-saudara, kita telah selesai membangun masjid. Silakan saudara-saudara gunakan masjid ini untuk shalat berjamaah. Jadi, ya zaman sekarang orang hanya bisa saling mempersilakan dan saling menganjurkan.”
“Soalnya, kalau dahulu setiap peresmian masjid dikatakan: “Saudara-saudara, kita telah selesai membangun masjid. Mari kita gunakan masjid ini untuk shalat berjamaah.” Kalau pada zaman sekarang setelah selesai membangun masjid dikatakan: “Saudara-saudara, kita telah selesai membangun masjid. Silakan saudara-saudara gunakan masjid ini untuk shalat berjamaah. Jadi, ya zaman sekarang orang hanya bisa saling mempersilakan dan saling menganjurkan.”
Dua puluh Persen
Pada suatu hari ada kampanye dialogis yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat. Ada yang menjadi pedagang, ada yang menjadi petani, ada yang menjadi guru, dan bahkan ada juga seorang purnawirawan yang hadir. Setelah capres itu menawarkan program-programnya, moderator mempersilakan orang-orang untuk bertanya. Seorang petani bertanya kepada capres tersebut, “Pak, saya hanya petani miskin yang hanya mempunyai sepetak sawah. Penghasilan lain tidak ada. Jika bapak jadi presiden, berapakah anggaran untuk membantu kami para petani kecil ini agar bisa berkembang?”
Dengan mantap dan singkat capres tersebut berkata, “Dua puluh persen.”
“Pak, jika bapak menjadi presiden, berapa anggaran memberi bantuan kepada kami, para nelayan?”
Dengan mantap dan singkat capres tersebut berkata, “Dua puluh persen.”
Pak, jika bapak menjadi presiden, berapa anggaran bapak untuk pendidikan?” tanya seorang guru.
“Duapuluh persen,” jawabnya semakin mantap.
“Pak, sekarang banyak jalan macet. Kendaraan semakin lama semakin banyak. Kalau bapak jadi presiden, berapa anggaran bapak untuk membiayai sarana transportasi?” tanya seorang sopir bis.
“Dua puluh persen.”
“Pak, Indonesia sering dilecehkan oleh bangsa asing. Itu karena angkatan perang kita tidak memiliki persenjataan yang hebat. Jika bapak menjadi presiden, berapa jatah anggaran untuk persenjataan dan angkatan perang kita yang harus menjaga bumi pertiwi ini dari Sabang sampai Merauke?” tanya seorang anggota ABRI.
“Dua puluh persen.”
“Pak, sekarang terjadi krisis moral. Semua itu karena masyarakat kurang mengamalkan ajaran agama. Berapa anggaran yang Bapak keluarkan untuk kegiatan keagamaan jika kelak Bapak jadi presiden?”tanya seorang ustad.
“Duapuluh persen,” jawabnya.
“Pak, berapa persen total anggaran yang akan Bapak keluarkan untuk membangun negeri ini, jika kelak bapak yang terpilih menjadi presiden?”
“Ya, itu tergantung kepada aspirasi rakyat. Kalau rakyat minta anggarannya tinggi ya sampai lima ratus persen pun tidak masalah.”
Semua orang yang mendengar terbengong-bengong.
Dikirim oleh Syafii
Dengan mantap dan singkat capres tersebut berkata, “Dua puluh persen.”
“Pak, jika bapak menjadi presiden, berapa anggaran memberi bantuan kepada kami, para nelayan?”
Dengan mantap dan singkat capres tersebut berkata, “Dua puluh persen.”
Pak, jika bapak menjadi presiden, berapa anggaran bapak untuk pendidikan?” tanya seorang guru.
“Duapuluh persen,” jawabnya semakin mantap.
“Pak, sekarang banyak jalan macet. Kendaraan semakin lama semakin banyak. Kalau bapak jadi presiden, berapa anggaran bapak untuk membiayai sarana transportasi?” tanya seorang sopir bis.
“Dua puluh persen.”
“Pak, Indonesia sering dilecehkan oleh bangsa asing. Itu karena angkatan perang kita tidak memiliki persenjataan yang hebat. Jika bapak menjadi presiden, berapa jatah anggaran untuk persenjataan dan angkatan perang kita yang harus menjaga bumi pertiwi ini dari Sabang sampai Merauke?” tanya seorang anggota ABRI.
“Dua puluh persen.”
“Pak, sekarang terjadi krisis moral. Semua itu karena masyarakat kurang mengamalkan ajaran agama. Berapa anggaran yang Bapak keluarkan untuk kegiatan keagamaan jika kelak Bapak jadi presiden?”tanya seorang ustad.
“Duapuluh persen,” jawabnya.
“Pak, berapa persen total anggaran yang akan Bapak keluarkan untuk membangun negeri ini, jika kelak bapak yang terpilih menjadi presiden?”
“Ya, itu tergantung kepada aspirasi rakyat. Kalau rakyat minta anggarannya tinggi ya sampai lima ratus persen pun tidak masalah.”
Semua orang yang mendengar terbengong-bengong.
Dikirim oleh Syafii
Sabtu, 04 April 2009
Apa Arti Poli
Saat mengerjakan PR pelajaran Bahasa Indonesia seorang anak bertanya kepada mamanya, "Ma, apa sih makna poli itu?"
"Poli itu maknanya banyak atau lebih dari satu," jawab mamanya.
"Tetapi kata poli harus diikuti oleh kata yang lain. Misalnya, politeisme artinya keyakinan banyak Tuhan, poligami artinya laki-laki yang memiliki banyak istri, poliandri artinya wanita yang memiliki banyak suami," kata mamanya.
"Lha, kalau papa itu di sebut politikus maksudnya…..?"
posted by Hasna's father
"Poli itu maknanya banyak atau lebih dari satu," jawab mamanya.
"Tetapi kata poli harus diikuti oleh kata yang lain. Misalnya, politeisme artinya keyakinan banyak Tuhan, poligami artinya laki-laki yang memiliki banyak istri, poliandri artinya wanita yang memiliki banyak suami," kata mamanya.
"Lha, kalau papa itu di sebut politikus maksudnya…..?"
posted by Hasna's father
Langganan:
Postingan (Atom)