KAMI MENERIMA SUMBANGAN CERITA DARI TEMAN-TEMAN SANTRI SELURUH INDONESIA. CERITA YANG KAMI MUAT TIDAK MENGANDUNG SARA, MELECEHKAN, PROVOKATIF DAN HAL-HAL NEGATIF LAINNYA, AKAN KAMI CANTUMKAN ASAL PENGIRIM . CERITA YANG DI MUAT ISI DAN CERITA MENJADI TANGGUNG JAWAB PENGIRIM. KIRIMKAN CERITA KE lidahwali@yahoo.com/djoke_ok@hotmail.com TERIMAKASIH.

Senin, 13 Juli 2009

Pagar Rumah

Seorang tamu datang ke rumah kiai dengan maksud mencari pagar rumah biar tidak dimasuki oleh pencuri.
"Ngapunten, Pak Kiai. Apakah sudilah Pak Kiai memberi pagar rumah saya agar tidak dimasuki maling," kata orang tersebut.
"Lho, rumahmu kan sudah dipagar tembok. Ada kaca di atas tembok plus kawat berduri yang dialiri strom 220 volt kan?" tanya Pak Kiai.
"Benar, Pak Kiai. Tapi maksud saya pagar yang Islami." (Maunya dirajah atau apa kek namanya). "Biar kalau ada maling masuk tidak bisa keluar.
"Wah, kalau yang begituan saya gak punya," kata Pak Kiai ringan. Tamu itu kelihatan kecewa. "Pak Kiai ini memang kiai gadungan atau kiai pelit ilmu ya?" Begitulah yang terpikir di pikirannya yang kotor alias ngeresssss.
"Tapi saya punya ilmu bagaimana agar maling masuk ke dalam rumahmu bisa keluar rumah tanpa membawa apapun juga," kata Pak Kiai mengobati kekecewaan tamunya.
"Benarkah Kiai? Yah, yang begituan yang saya inginkan."
"Bagaimana caranya dan berapa bisyarahnya?"
"Caranya jangan masukkan ke dalam rumahmu barang berharga yang diminati orang lain. Ntar kalau ada maling masuk ndak minat sama barangmu dia akan keluar tanpa membawa apa-apa?"
"Ahhhhhhh?" capek deh.
posted by Muhammad Syafii Masykur

Kiat Agar Cita-cita Tercapai

Suatu sore seorang kiai didatangi oleh seorang tamu. Biasa, untuk curhat. "Pak Kiai, apa sich resep seseorang agar cita-citanya tercapai?"
"Ah, itu sich mudah," kata Kiai.
Benarkah?" tanya tamu itu.
"Ya, bahkan untuk mencapai lebih dari sekedar cita-citamu pun juga tidak sulit sebenarnya. Asalllll...."
"Asal apa Pak Kiai?"
"Asal kamu tahu rahasianya?"
"Memang rahasianya apa sich?"
"Kamu jangan bercita-cita muluk. Jangan punya cita-cita setinggi langit. Nanti kamu gak bisa meraihnya. Bercita-citalah yang wajar. Wajar, tapi mulia."
"Contohnya apa, Pak Kiai?"
"Bercita-citalah jadi muadzin, bercita-citalah jadi orang yang mau bersih-bersih masjid. Ini, cita-cita mulia mudah meraihnya, dan besar pahalanya. Iya to?"
Tamu itu hanya garuk-garuk kepala lalu pamit dan ngeloyor pergi. Yah, maklum zaman sudah materialistis. Semua diukur dengan materi. Adzan dan membersihkan masjid kan tidak menjanjikan finansial yang menggiurkan?

Senin, 20 April 2009

Ini kan dalil untuk orang lain

"Saudara-saudara, Allah berfirman, kamu tidak mencapai kebajikan yang sempurna sebelum menginfakkan apa yang kalian cintai." Begitulah kata seorang dai dengan bahasa yang menggebu-gebu dan semangat menggelora seperti Bung Karno di zaman dulu. Semua orang mendengarkan dengan seksama. Tidak terkecuali istri Al Mukarram Dai tersebut. Mereka laksana tersihir olehnya.
Malam berikutnya Sang Dai diminta mengisi tabligh di tempat lain. Namun kali ini sang istri tidak bisa ikut karena ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan (Alasan orang kan biasanya begitu tho?). Ternyata di rumah ada tamu dua orang mahasiswa yang ingin mengundang Sang Dai untuk menyampaikan tabligh akbar di kampus pencetak intelek pencari lapangan kerja. Ya, meskipun yang datang tidak seberapa, tapi kan istilah yang sedang ngetrend sekarang tabligh akbar. Istri Sang Dai ingat kata-kata suaminya. Segera ia menyuruh anak sulungnya untuk menyembelih jago bangkok klangenan sang suami. "Ah, pasti Abi akan bangga kalau aku infakkan ayam kesayangannya ini untuk menjamu tamu," pikirnya sambil tersenyum.
Singkat cerita, masakanpun matang dan istri Sang Dai menyuguhkan tamunya dengan daging ayam klangenan sang suami. Setelah semuanya dirasa cukup, merekapun pulang.
Beberapa saat kemudian Sang Dai pulang. Dengan penuh kasih dan hormat, istrinya menyambut. Maklumlah, ia adalah sosok istri pendamba surga. "Abi lapar?" tanyanya.
Suaminya mengangguk. Ia pun mengambilkan makan nasi dan daging ayam yang masih ada. Sambil menemani suaminya makan, sang istri bercerita tentang tamu yang mengundangnya untuk tabligh akbar. Suaminya manggut-manggut sambil menikmati daging ayam masakan istrinya. "Kalau saja tiap tamu mbawa makan ayam tiap hari seperti ini, pasti rasanya lebih nikmat," pikirnya.
Pagi harinya, Sang Dai merasa ada sesuatu yang kurang. Yah, ia tidak mendengar kokok ayam jantan klangenannya. Ia mencari kemana-mana tetapi tidak ketemu juga.
"Umi, di mana ayam jago klangenan Abi?" tanyanya kepada istrinya.
"Lha, yang Abi makan tadi malam itu kan si Jago?" kata istrinya.
"Inna lillaahi wa innaa ilahi rooji'uun," kata suaminya sedih.
"Lha, itu bukan ayam bawaan tamu ya Mi? Itu Si Jago" Kok Umi tega-teganya menyembelih binatang kesayangan Abi," kata Sang Dai penuh penyesalan
"Lha, kata Abi kita baru mencapai derajat kebajikan yang sempurna kalau sudah menginfakkan apa yang kita cintai. Lha, saya ingin mencapai derajat itu bersama Abi," kata istrinya menjelaskan maksudnya.
"Umi, umi. Itu kan dalil untuk orang lain, bukan untuk kita."
"Oalah."
Posted by Santri Lajon

Rabu, 08 April 2009

Perhatian Caleg Terhadap Pesantren

Seorang caleg tengah mengunjungi sebuah pesantren untuk berkampanye. Karena para santri biasanya sami'na wa atha'na, jadi nanti tinggal ngrembuki kiainya saja sudah mendapatkan suara sekian ribu. Maklumlah, santri di pesantren tersebut tidak kurang dari lima ribu orang. "Maaf, Pak. Bagaimana perhatian Bapak dan Partai yang bapak pinpin terhadap dunia pesantren besok?"
"Dari dulu kami sangat memperhatikan dunia pesantren dan besok pun tetap akan memperhatikan dunia pesantren. Lihatlah kaos dan akan kami bagikan. Lihatlah jas yang sekarang kami pakai. Sama bukan, dengan warna kitab kalian?"

dipun kentun dening Bapakipun Hasna kalian Farhan

Perawinya Muslim

Dalam sebuah pengajian, ada seorang ustad muda yang menyampaikan beberapa hadis tanpa menyebutkan para perawinya. Maklumlah, sang ustad bukanlah alumni pesantren seperti Lirboyo, Langitan, Tebu Ireng, Gontor, atau yang sejenis. Ustad muda ini adalah hasil didikan sebuah lembaga yang enam bulan menggodog pesertanya untuk menjadi dai-dai profesional. Jamaah pengajiannya pun rata-rata orang awam yang tidak tahu menahu tentang hadis dan seluk beluknya.
Setelah sang ustad selesai menyampaikan taushiyah, dibukalah dialog interaktif. Biar bisa hidup dan wawasan semakin luas, katanya. Salah seorang jamaah yang kebetulan adalah mahasiswa yang sedang rajin-rajinnya belajar ilmu agama mengacungkan jarinya. "Maaf Ustad, saya ingin tanya. Siapa ya para perawi hadis yang telah ustad sebutkan tadi?"
Pertanyaan yang tidak terduga sebelumnya. Sang ustad ini hanya akrab dengan dua nama perawi hadis, Bukhari dan Muslim. Ia pun menjawab, "Kelima hadis yang saya sebutkan tadi perawinya, muslim."
Ada seorang mahasiswa yang kebetulan agak lama nyantri mengacungkan jarinya, "Maaf Ustad, setahu saya hadis pertama tadi perawinya Imam Bukhari, yang kedua Imam Abu Dawud, yang ketiga Imam Ibnu Majah, yang keempat Imam Ibnu Khuzaimah, dan yang kelima Imam Thabrani."
"Lho tapi kan kelimanya tetap juga muslim, tidak ada yang non muslim?" kata Ustadnya tidak mau kalah.
Dipun serat dening Mas Pii

Selasa, 07 April 2009

TPA sana sudah maju

Pada suatu hari ada pertemuan antara ustadz dan para wali santri untuk membicarakan anak-anak yang mengaji. Para ustadz ingin membicarakan kwalitas anak-anak yang mengaji agar mereka bisa meningkat. Lalu para wali dipersilahkan mengemukakan usul-usulnya.
“Ustadz, kita harus berfikir bagaimana untuk memajukan TPA ini.”
“Apa saran ibu agar TPA ini bisa maju.”
“Kita harus bisa mencontoh TPA yang sudah maju.”
“Coba ibu tunjukkan contoh TPA yang sudah maju.”
“Ah, banyak sekali ustadz. TPA di sana, di kampung sana itu maju. Anak yang masuk sudah langsung disuruh membeli seragam bagus, setiap minggu ada sepeda gembira, setiap sebulan mereka piknik, dan di sana bayarnya mahal.”
Dengan suara pelan ustadz itu mengucap, “Astaghfirullahal Azhim.”

Menyumbanglah sebanyak-banyaknya

Pada suatu hari ada seorang Ustadz berceramah dalam acara penggalian dana demi pembangunan masjid, “Saudara-saudara. Semua orang mati akan terputus amalnya selain tiga. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shalih. Oleh karena itu, janganlah kalian pelit. Nafkahkanlah harta kalian di jalan Allah. Untuk menayntuni fakir miskin, anak yatim, dan apalagi untuk kepentingan masjid. Ingatlah, kalian tidak akan dianggap berbuat baik secara sempurna sebelum kalian menafkahkan apa yang kalian cintai. Mari, kita menyumbang sebanyak-banyaknya dan seikhlas-ikhlasnya untuk masjid yang akan dibangun ini.”
Para pendengar merasa terpana dengan pidato ustadz yang demikian berapi-api. Memang, ustadz yang pidato itu adalah ustadz ternama yang setiap pidato bisa membangkitkan semangat orang.
Beberapa hari kemudian, panitia masjid itu mendatangi rumah sang ustadz untuk mohon sumbangan. Sang ustadz marah-marah dan berkata, “Kemarin lusa, ada panti asuhan minta nsumbangan. Kemarin ada yayasan panti jompo minta sumbangan. Sekarang panitia masjid minta sumbangan. Besok pasti ada orang ngamen minta uang. Lha kalau setiap hari ada orang minta sumbangan, habis uangku.” Mendengar jawaban itu, panitia masjid bertanya, “Maaf, Pak ustadz, bukankah kemarin Pak Ustadz yang menganjurkan para pendengar pengajian untuk beramal sebanyak-banyaknya?”
“Lha ya itu yang bikin saya heran. Masak sudah aku bilang tiap orang harus beramal banyak dan ikhlas kok masih belum tergugah juga. Coba kalau misalnya yang hadir kemarin ada lima ratus orang dan masing-masing orang menyumbang lima ratus ribu. Nanti kan sudah cukup untuk bangun masjid tanpa

posted by Syafii Masykur